Rumah Kertas : Debu di Antara Bebukuan

Seorang professor sastra mati, ironisnya karena sastra itu sendiri!

Marjin Kiri

Bluma Lennon diketemukan tergeletak di tikungan jalan pertama setelah tertabrak oleh sebuah mobil yang merenggut nyawanya. Beberapa orang berkesimpulan bahwa kematian sang professor dikarenakan kecintaannya kepada sastra, dan sebagian lainnya menolak mentah-mentah pernyataan tersebut. Seorang rekan Bluma menggantikan posisinya sebagai professor sastra di Universitas Cambridge. Semua berjalan normal hingga rekannya itu mendapatkan sebuah paket tanpa pengirim yang beralamatkan ke Bluma sendiri. Paket dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku karya Joseph Conrad dengan judul La linea de sombra, terjemahan spanyol dari The shadow-line yang tampak aneh dengan serpihan semen kering di kedua sisi sampulnya. 

Penasaran, rekan Bluma mencari asal usul dari buku tersebut yang membawanya ke dalam perjalanan tak terduga tentang arti sebuah buku. 

Kartu Tanda Buku
Judul : Rumah Kertas | Judul Asli : La casa de Papel | Penulis : Carlos Maria Dominguez | Penerjemah : Ronny Agustinus | Bahasa : Indonesia | Penerbit : Marjin Kiri | Tebal : 76 halaman | Genre : Sastra

Review

Pertama kali buku ini datang ke rumah bersamaan dengan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, gue berekspektasi bahwa buku ini akan menjadi buku fantasi. Tapi nyatanya ekspektasi gue salah. Gue membutuhkan lebih lama waktu untuk menamatkan novelet yang cenderung amat tipis ini. Cuma 76 halaman guys. Hal ini karena mungkin karena kapasitas otak gue untuk ngeproses dan mengerti buku ini cenderung lama dan mungkin pentium 3 kali ya. Secara buku yang dikategorikan sastra ini dipenuhi oleh narasi dengan sudut pandang pertama yang menjelaskan semuanya. 

Namun semakin gue membacanya semakin gue merasa bahwa buku ini sangat menarik. Di awal cerita, gue dihadapkan tentang fenomena kematian Bluma yang menjadi awal masalah keributan di universitas Cambridge. Beberapa mengatakan bahwa Bluma mati karena sastra, iya itu karena ia tertabrak sedang membaca sebuah buku puisi saat menyebrang. Dan beberapa lagi mengatakan bahwa Bluma mati karena tertabrak mobil. 

Perbedaan pendapat mengenai penyebab kematian bluma menyebabkan perpecahan di jurusan sastra. 
Hal ini mengahasikan banyak esai mengenai kematian Bluma, saling menyerang pemikiran masing-masing karena karya harus dibalas dengan karya. Menurut gue, fenomena ini sangatlah lucu dan menarik. Gue memikirkan apa yang ada diotak Carlos MD saat menulis ini. Apakah untuk penggambaran sekilas tentang lingkungan sastra? Atau apakah untuk menyindir para penggiat sastra dan sastrawan? Sesungguhnya hanya sang penulislah yang tahu. 

Berlanjut dengan keputusan tokoh Aku untuk menyelidiki asal-usul buku karya Joseph Conrad, gue mendapatkan banyak ilham tentang dunia perbukuan dan menyadari gue hanyalah seuprit debu di antara bebukuan yang tak terlihat dan tak terdeteksi. Penyelidikan tokoh aku membawa gue berkenalan dengan Carlos Brauer dan beberapa tokoh pecinta buku lainnya. Dipikir-pikir lagi, gue me-notice bahwa pecinta buku memiliki sifat dan karakteristik yang sama seperti obsessif, ambisius, dan penuh rasa ingin tahu. Tokoh-tokoh tersebut membuat gue mengenal beberapa karya-karya masterpiece yang harus gue baca sebelum gue meninggal. Di buku ini juga ngasih tahu bahwa setiap pembaca buku adalah pendosa karena we collect and read to brag. Menarik. 

Hingga akhirnya gue menyadari bahwa buku ini berpusat pada Carlos Brauer. Menariknya sang tokoh utama dan sang penulis memiliki nama depan yang sama. Carlos Brauer adalah salah satu tokoh yang membuat gue menyadari bahwa obsesif berlebihan bisa menimbulkan kekecewaan yang berlebihan. Keputusannya untuk membangun rumah kertas bagi gue merupakan tindakan kekecewaan dia kepada realita yang menimpa dirinya. Gue sangat merasa kasihan dan menyadari bahwa Carlos Brauer ini adalah pencerminan manusia ketika mengalami sebuah kekecewaan.

Walaupun bisa gue bilang bahwa endingnya gitu aja, tapi gue tetap mendapatkan closure tentang Carlos Brauer dan problematika hidupnya. Seperti jangan mencintai terlalu berlebihan karena semua yang berlebihan itu akan membunuh pelan-pelan.



Comments

Post a Comment

Popular Posts