Antara Raden Saleh dan Nicoolas Pieneman



Ketika semua orang berbondong-bondong ke Galeri Nasional untuk mendapatkan foto yang maha aesthetic, gue ke GALNAS malah mencari ketenangan. Bagi gue GALNAS tuh semacam tempat gue merenung untuk mencoba memahami hal-hal yang tersirat, abstrak, dan yang gak gue pahami. Namun kunjungan tanggal 27 September 2017 kemarin, sangat membuka mata gue yang gak pedulian. Iya, mungkin ini bisa jadi juga karena adanya restorasi, modernisasi, dan pembaruan format dan struktur museum serta galeri nasional yang bikin semuanya menjadi mudah. Khususnya informasi sebuah karya ataupun sejarah. Mungkin juga karena guenya aja yang gak tahu sejarah dan gak peduli sejarah, padahal teman-teman semua sudah tahu. Tapi yang pasti gue sangat takjub sama fakta yang membuka mata gue ini. 

Saat gue memasuki salah satu area di pameran tetap GALNAS, mata gue langsung mengenal sebuah lukisan karya Raden Saleh dengan judul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Awalnya gue merasa senang karena bisa secara langsung melihat lukisan tersebut setelah gagal melihatnya di Museum Sejarah Jakarta. Tapi saat gue memerhatikan lebih seksama lagi, lukisan tersebut juga bukan lukisan asli karena kentara sekali bahwa itu print on canvas. Tapi gue gak langsung kecewa, ya mana mungkin lukisan asli dengan nilai historikal sangat tinggi dipamerkan begitu saja. 


Setelah memuaskan mata melihat lukisan tersebut, gue pun beralih ke lukisan di sebelahnya. Mata gue menangkap hal yang familiar tapi gue gak ngerti apa bedanya. Hingga gue membaca informasi lukisan tersebut lewat layar interaktif yang disediakan oleh GALNAS. 

WOW! Gue sangat terkejut. 

Ternyata dua lukisan yang baru saja gue lihat tadi menggambarkan dan menceritakan kejadian yang sama, yaitu penangkapan Pangeran Diponegoro dengan dua perspektif yang berbeda. Gue pun mencoba kembali ke lukisan tersebut, dan ya, indra penglihatan gue mulai bisa mengenali lebih detail dari kedua lukisan tersebut. 
Penangkapan Pangeran Diponegoro, Raden Saleh 1857

Pada lukisan karya Raden Saleh (1857), gue merasakan bahwa Pangeran Diponegoro digambarkan dengan raut wajah tegas, merasa tidak terima, dan menahan amarah. Dadanya dibusungkan sebagai tanda penolakan atas apa yang beliau terima. Sosok sang pahlawan pun digambarkan tidak sendiri, melainkan bersama para pendukung dan pengikutnya yang tidak sedikit nan berbondong-bondong bersimpuh dengan keadaan kecewa. Sedangkan sang prajurit dan tokoh Belanda lainnya digambarkan dengan kepala yang agak besar dan raut wajah yang arogan. 

Sedangkan pada lukisan karya Nicoolas Pieneman (1835)  dengan judul Penyerahan Pangeran Diponegoro Kepada Jenderal De Kock,  Pangeran Diponegoro digambarkan dengan tampak pasrah dan mengakui kekalahannya. Sedangkan para pengikut beliau hanya digambarkan sedikit dengan penggambaran pasrah, memohon, dan beberapa terlihat menyesali perbuatan Sang Pangeran. Lain pula dengan penggambaran tokoh Belanda yang seakan puas atas hasil yang mereka dapatkan. 

Penyerahan Pangeran Diponegoro Kepada Jenderal De Kock, Nicoole Peineman 1835

Setelah mendapatkan fakta tersebut, satu persatu sejarah Pangeran Diponegoro bermunculan di otak gue bagaikan cuplikan film buram. Pun termasuk denah Museum Sejarah Jakarta yang sempat menjadi tempat tahanan bagi Pangeran Diponegoro. Gue juga mulai mencari alasan mengapa Raden Saleh memutuskan untuk menggambar kejadian tersebut, malah awalnya gue mengira jangan-jangan beliau plagiat Nicoolas Pieneman? Sang pelukis kerajaan Belanda?

Pencarian asal-usul lukisan tersebut gak berhenti sampai situ aja. Gue mulai mencari artikel-artikel tentang lukisan tersebut. Dan ternyata sudah banyak yang ngulas serta banyak informasi baru yang gue dapatkan. Salah satunya alasan mengapa Raden Saleh menggambar ulang kejadian ikonik tersebut. Ya, itu semua karena beliau tidak terima dengan penggambaran berat sebelah lukisan yang menunjukkan kepasrahan Pangeran Diponegoro. Pasalnya, seperti yang kita ketahui bahwa saat itu Pangeran Diponegoro diundang untuk berdiskusi untuk membahas perdamaian. Tapi nyatanya, ia malah diperalat dan dibohongi hingga akhirnya ditangkap secara paksa. 

Hal ini menjadi gebrakan Raden Saleh untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan detail yang lebih baik dalam penggambaran kejadian tersebut. Gue yang awalnya tidak menyadari, pun menjadi sadar saat membaca artikel-artikel serta tautan sejarah tentang ini. Contohnya penggambaran para pengikut Pangeran Diponegoro. Di lukisan karya Peineman, para pengikut sang pangeran digambarkan menyerupai orang arab. Hal ini mungkin dikarenakan Peineman belum pernah datang ke Hindia Belanda hingga ia menggambarkan apa yang ia imajinasikan tentang para pengikut Pangeran Diponegoro. 

Berbeda dengan Peineman, Raden Saleh menggambarkan para pengikut dengan detail yang sangat baik seperti memakai kain batik, blankon, dan pakaian serta atribut yang merupakan ciri khas pendduk asli Hindia Belanda. Ditambah lagi tidak adanya gambar keris yang disematkan sebagai senjata pada Sang Pangeran dan pengikut. Detail ini menjelaskan bahwa Sang Pangeran datang dengan niat baik dan damai. 

Dari semua informasi yang gue dapatkan dan terima, gue sangat takjub dengan kedua lukisan tersebut. Bukan hanya karena Raden Saleh berani untuk melukis ulang peristiwa penang kapan tersebut dan diberikan kepada kerajaan Belanda, tapi juga karena betapa kuatnya kekuatan kuas/pena untuk menceritakan sebuah peristiwa. Ditambah lagi, dengan dua lukisan ini juga memberi tahu gue bahwa setiap hal even in the war period, pasti ada lebih dari satu sudut pandang dalam setiap kejadian. 

Bisa aja gitu Raden Saleh memilih untuk bungkam atas lukisan Peineman yang tidak sesuai fakta yang ada. Tapi Raden Saleh malah memilih untuk menggerakkan kuasnya dan memberitahu yang sesungguhnya terjadi. Beliau mengubah kegelisahannya menjadi sesuatu yang nyata sebagai tindak protesnya. Sebuah keberanian Raden Saleh untuk menceritakan kebenaran dengan tanggung jawab. Sungguh suatu hal yang sangat dibutuhkan hingga kapan pun. 

Selamat Hari Pahlawan!

10/11/17

Reference : 

Romantika Lukisan Raden Saleh - HarianSejarah.id

Comments

  1. Ebuset, cuma karena ada perspektive yang beda. Langsung riset, totalitas banget ini sama seni :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkw, makasih loh :") Tapi sebenernya cuma penasaran aja :")

      Delete
  2. Ilmu baru buat aku.
    Thank you, Mifta.

    Tapi Mifta...kalau di dunia seni, apakah tidak ada emm, semacam pembatalan atas seni sebelumnya kalau tidak sesuai dengan sejarah?

    Karena kalau di sebuah literatur karya ilmiah, bila ada teori baru, maka teori yang lama gak akan berlaku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pembatalan karya? Nggak ada dong. Meski tidak sesuai sejarah, seni memiliki elemen estetik yang nggak perlu dibatalkan. #nimbrung

      Delete
    2. Aah...itu yaa..perlu ada ahli sejarah.
      Pasti yang diteliti gak hanya dari satu perspektif (tulisan, literatur, dll) tapi juga dari hadirnya sebuah karya seni.

      Delete
    3. Iya setahu aku di ranah seni tuh gak ada pembatalan karya :") Tapi memang ini tuh kayak "Karya dibalas karya" begitu. Walaupun emang membalasnya 20 tahun kemudian :")

      Delete
  3. Ebuset. Nyebelin ya painemann itu. Ish.

    Untungnya Allah langsung membela Pangeran Diponegoro lewat tangan Raden Saleh 💚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emm, sebenernya kita gabisa nyalahin siapa-siapa sih. Since Peineman itu melukis lukisan itu karena dia disuruhkan dan dia juga gak pernah ke Hindia Belanda jadi ya.. dia cuma denger apa yang diinterpretasikan oleh sang General.

      Delete
    2. Ooh gitu yaa
      Hmm iya juga sih
      Nggak murni kemauan Peineman ya. Toh si Paneiman juga dengerinnya dari satu sudut pandang yg jelas ada keberpihakan.

      Hmm ya itu tadi. Sekali lagi, Untungnya Allah langsung membela Pangeran Diponegoro lewat tangan Raden Saleh ��

      Delete
  4. Subhanallah. Mantap Kak Miftah ulasannya. Kalau dihubungkan ke kita sebagai generasi penerus bangsa, harusnya kita juga bisa berkarya untuk menyalurkan kegelisahan kita atas kondisi buruk zaman sekarang. Misal, bikin chanel youtube positif, ngisi blog dg brainstorming keren, nerbitin buku, dll.

    ReplyDelete
  5. Wwaaaaww ...
    Aku yang buta seni jadi tau yang beginian. Jadi keduanya bisa jadi pembanding aja yaa... Ga bisa main batalin gitu aja. Hehe

    ReplyDelete
  6. bisa gitu ya mbak, geda goresan dikit bisa merubah banyak makna di lukisan, cung jempol untuk para pelukis. apalah daya aku yang tidak bisa melukis ini

    eh..

    ReplyDelete
  7. Waaah, keren banget ulasannya, banyak hal yang terjadi di balik sebuah lukisan, makin kagum dengan Raden Saleh

    ReplyDelete
  8. Belum pernah ke Galeri Nasional, jadi pengen ke sana ajak anak-anak

    ReplyDelete
  9. Aku salut dengan pembahasanmu tentang bagaimana Raden Saleh dan Peineman menilai satu peristiwa dalam berbagai perspektif. Benar-benar mantep nih kayaknya sama seni. Ilmu baru juga nih! Keren!

    Sepertinya jika ibarat hip-hop, Raden Saleh ikut memberikan sebuah diss kepada Peineman.

    ReplyDelete
  10. Miftah kereen..! Bisa mengulas karya seni.
    Tidak hanya lukisan, tulisan pun pasti nyawanya berbeda kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda ya...
    Wajar saja Peineman hasil lukisannya seperti itu, karena dilihat dari perspektif penjajah.
    Sedangkan Raden Saleh, sebagai bagian dari bangsa yang terjajah, tentu saja ingin memperlihatkan pada dunia, kejadian yang sebenarnya.
    Setidaknya kita jadi tahu tentang kedua lukisan itu. Thanks to Miftah, pengetahuan kita jadi bertambah.

    ReplyDelete
  11. mantap banget mbak miftah, jadi tulisan mbak aku jadi tahu kalau ada dua lukisan pangeran dipenogoro yang dilukis oleh dua orang yang berbeda. satu penjajah, satu pribumi (eh ga papa kan tulis pribumi) . aku dapat ilmu baru di sini mbak Miftah.

    ReplyDelete
  12. Luar biasa Miftah! Aku mah gak ngerti sama yg beginian heheheh cuma bisa membaca aja tanpa perlu mengomentari :p

    ReplyDelete
  13. Kadang kita tak emsti melawan dgn cara kekerasanm kita juga bsa melawan dengan keahlian kita juga kok.. Seperti raden saleh melawan dengan teknik kuasnya

    ReplyDelete
  14. Wah, baru tau juga nih tentang lukisan Pangeran Diponegoro yg ada dua versi. Ini jadi ngingetin kita juga ya sebagai penulis atau blogger, kita bisa (banget) juga meluruskan sejarah melalui tulisan kita. Yuk, semangat pahlawan :)

    ReplyDelete
  15. Aku malah banyak lihat lukisan Raden Saleh di Keraton Jogja. lukisan yang bisa memiliki ekspresi berbeda dari berbagai sudut dan matanya bisa ngikutin kemanapun pengunjung jalan :)

    ReplyDelete
  16. Aku kok bacanya painem teeus yaaa. Astaghfirullah. Tapi ini tulisannya dalem betul. Bikin saya jadi gugling. Hihi

    ReplyDelete
  17. dua sudut pandang dari satu kejadian yah, hal yang lumrah sebenarnya karena intepretasi si pelukis dan latar atau lingkungan juga bakal memengaruhi ide dia ketika dia menuangkan dalam bentuk lukisan,
    Terlepas dari itu, saya masih suka versi Raden Saleh sih hehee

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts