Hal yang Gue Pelajari dari Perjalanan ke Korea

Lima ribu dua ratus sembilan puluh tujuh kilometer adalah jarak yang harus gue tempuh dari Jakarta, Indonesia untuk sampai ke Incheon, Korea Selatan. Dengan jarak itu gue mempelajari banyak hal. Dengan jarak itu gue berhasil menemukan bagian diri gue yang lain. Bagian yang belum pernah gue temukan dan bahkan gue gak pernah tahu bahwa bagian itu ada. Mungkin ini yang membuat travelling menjadi hal yang sangat menyihir dan adiksi. Menemukan diri lo sendiri.

Perjalanan sepuluh hari gue tinggal di Korea membuka mata gue. Membuat gue merasakan hal yang udah lama gak gue rasakan, yaitu kekhawatiran dan keresahan. Gue khawatir akan keterlenaan gue dengan segala fasilitas yang Korea tawarkan.

Rumput tetangga memang lebih hijau dibanding rumput sendiri, bukan?

Gue pun jadi sering membanding-bandingi Korea dan Indonesia. Gue menjadi sok kritis dan jadi banyak menyalahi aturan dan hal-hal kecil yang ada di Indonesia. Semua itu bermula dari iri.

“Kenapa di Indonesia trotoar gak kayak di sini?”
“Kenapa museum di Indo gak kayak gini?” 
“Kenapa pasar di Indo gak kayak gini?”
“Kenapa orang Indonesia gak menghargai budayanya, beda kayak di sini?”
“Kenapa kereta di Indonesia gak bisa kayak gini?”

Dari pertanyaan seperti ini gue pun menjadi resah. Apalagi waktu gue memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Gue jadi sering bengong, atau bahasa gaulnya space out.

Lalu gue menyadari bahwa gue bodoh sekali membandingkan Korea Selatan dengan Indonesia. Walapun dalam sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia lebih dahulu dibanding Korea Selatan, namun sejarah juga mencatat bahwa Indonesia sangatlah berbeda dari Korea Selatan. Perbedaan itu dimulai dari masa kerajaan, penjajahan, ras, hingga peperangan. Bahkan hingga saat ini Korea Selatan masih melakukan gencatan senjata oleh saudaranya sendiri, yaitu Korea Utara. Jadi membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan adalah omong kosong.

Lantas, apakah itu artinya Indonesia tidak bisa menjadi seperti Korea Selatan? Menurut gue sih, ya dan tidak.  Indonesia tidak bisa menjadi Korea Selatan kedua, atau duplikatnya. Kenapa? Karena Indonesia memiliki identitasnya sendiri yang terkubur oleh ego dan gaya kehidupan rakyatnya sendiri. Indonesia bisa menjadi seperti Korea Selatan dalam mencontoh kedisiplinan, pengaturan infrastruktur, kebersamaan, dan sense of belonging kepada kebudayaan-nya sendiri.

Dari hal itu, sedikit demi sedikit gue mencoba mencontoh perilaku orang Korea. Hal yang pertama yang gue lakukan adalah mencoba jalan ke manapun yang bisa gue jangkau dengan jalan kaki. Jujur saja, sebelum gue ke Korea, gue selalu menggunakan jasa transportasi ojek online, taksi online, dan angkot. Bahkan ke minimarket dekat rumah pun yang berjarak 400 meter, gue lebih memilih naik motor dibanding jalan kaki. Sedangkan di Korea, karena transportasi agak mahal dan gak ada fasilitas seperti di Indonesia, setiap hari gue berjalan 20.000 langkah. Gue yakin ini juga yang menjadi alasan mengapa obesitas rate di Korea rendah (Tirto.id, Stanford online.).

Dengan alasan ini, gue pun mencoba untuk berjalan kaki ke manapun gue pergi. Setidaknya gue mau menambah langkah pejalan kaki yang pernah dirilis oleh tirto.id. Tapi hasilnya sungguh berbeda. Beberapa kali gue hampir ditabrak karena gak adanya trotoar dan harus berebut dengan pengguna motor serta kendaraan yang parkir sembarangan di jalanan. Apakah gue akan menyerah? Oh tentu saja tidak.

Gue akan terus menjadi pejalan kaki dan mencoba sebisa mungkin menggunakan transportasi umum seperti apa yang gue lakukan di Korea. Setidaknya, dengan langkah kecil ini gue berharap orang-orang ikutan melakukan tradisi Bus Metro Walk (BMW) yang dilakukan oleh Korea. Gue masih optimis bahwa Indonesia juga bisa menerapkan ini. Apalagi gue juga dengar bahwa stasiun kereta di tanah abang sudah tertib, dan fasilitas disetiap stasiunnya sedang ditingkatkan kembali. Gak ada kata yang terlambat untuk kebaikan bukan?

Selain berjalan, gue juga sedang mencoba untuk melakukan recycle sampah seperti yang orang korea lakukan. Mereka tahu betul bahwa sampah bisa menjadi masalah yang sangat membahayakan setiap tahunnya. Maka dari itu mereka sangat peduli dengan ini. Di setiap tempat, pasti difasilitasi oleh tempat sampah yang berbeda. Dari mulai untuk sampah organik seperti food waste, plastik, kaleng, hingga sampah kaca/benda-benda tajam.

Sebuah fake dokumentari tentang sampah yang dibuat oleh JinKyoung dalam variety show Unnies season 1 yang dibintangi oleh Min Hyorin pun pernah gue tonton. Film pendek tersebut memberi gue info tentang Korsel yang sedang siaga sampah dan tingginya polusi udara. Dari situ gue mikir gini, Korsel yang aware tentang sampah aja sedang siaga dan darurat sampah.

Apalagi Indonesia?

Dari situ, dikit demi dikit gue memilah sampah dan mengolah sampah yang bisa gue olah menjadi barang yang berguna.

Selama di sana, gue juga memerhatikan bagaimana orang-orang berperilaku saat membeli makanan. Jujur, makanan di korea tuh mahal. Gak ada tuh warteg yang bisa makan delapan ribu rupiah kenyang. Alhasil, orang korea lebih sering menghabiskan makanannya. Ditambah lagi mereka juga sering mengeluh tentang mengurusi sampah makanan yang kata mereka pain in the ass.

Saat makan di restoran dan restoran cepat saji pun mereka masih memilah-milah sampah mereka. Bahkan, mereka membersihkan sampah mereka sendiri. Gak heran, waktu di sana gue sering space out memerhatikan mereka. Gue juga gak mau kayak orang bodoh gitukan, jadi kali ada yang selesai makan, gue perhatikan tuh mereka bakal taruh nampan dan sampahnya di mana. Mereka bakal memisahkan sampah recycle dengan sampah makanan di tempat sampah berbeda. Lalu menaruh nampan di tempatnya lagi. Alhasil, meja yang merka tadi tempati jadi bersih lagi dan orang lain bisa langsung duduk.

Pemandangan ini terasa berbeda dan baru bagi gue. Biasanya di Indonesia gue menunggu pelayana untuk membersihkan meja yang bakal gue tempati dan setelah makan gue biarin aja sampahnya berantakan. Dengan semangat untuk berubah dikit demi sedikit, gue pun juga mulai menerapkan perilaku yang biasa gue lakukan di Korea. Nyokap gue pun heran, katanya “biarin aja orangnya yang ngerapihin.” Namun dengan tekad yang bulat, gue masih menerapkan hal itu. Sampe akhirnya nyokap gue pun ikut-ikutan membersihkan walaupun cuma memindahkan ke nampan dan gue yang buang sampahnya.

Well, sebenarnya gue masih pengen berbagi banyak hal yang gue mau ceritakan di sini. Tapi mungkin untuk museum, akan gue bagikan di post berikutnya. Gue juga percaya kalolangkah-langkah kecil yang gue terapkan hasil perjalanan gue ke Korea ini bakalan menghasilkan langkah-langkah besar untuk kemudia harinya. Gue juga yakin, kalo dari diri kita sendiri yang melakukan hal itu, orang-orang di sekitar kita bakalan ikut terpengaruh lambat laun. So yean, Indonesia ya Indonesia. Mau lo marah-marah tentang keadaan Indonesia dan membandingkannya dengan negara lain tapi lo gak berbuat apa-apa, ya sama aja bohong. Toh yang membuat Indonesia seperti ini-kan bukan hanya segelintir orang, bukan hanya pemerintah. Tapi ya, karena kita juga.

Pergi ke luar negeri tuh bukan lantas membuat gue lupa sama Indonesia, tapi malah membuat gue ingin mencontek hal-hal yang baik dari mereka untuk gue terapkan saat gue pulang nanti. Pergi ke luar negeri bukan lantas membuat gue besar kepala, tapi membuat gue menyadari keindahan Indonesia dan membuat gue ingin pulang ke rumah.

Comments

  1. Wih jauh yess jarak dari Indinesia ke Koreaa 😅😅😅
    Semoga Indonesia suatu saat bisa kaya orang korea yg nggak buang sampah sembarangan dan tertib sampah

    Mana foto2 lain Mift.. Di sana ketemu Gongyoo nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gong yoo dari mana deh? wkwkw Nanti ya aku post lagi foto-fotonyaa hehehe.

      Delete
  2. Aloha~

    Nice post, Mips.

    Ada beberapa yang sama, hehehehe.. Aku juga sekarang berusaha jalan kaki kalo jarak tempuhnya deket, tapi bukan karena aku pernah ke Korea, tapi karena kesadaran diri aja kalo eike butuh gerak dan ya itung2 ngurangin kemacetan meskin cuman berkurang satu motor kalo misalnya eike naek jasa ojek online.

    Untuk sampah, ya di kita juga udah mulai dibeda2kan ya tempat sampah berdasarkan jenis sampahnya, tapi kayaknya sih kesadaran orang2nya yang buang sampahnya yang kurang. Di kita, kita liat orang buang sampah di tempatnya aja ini udah bisa disyukuri, jadi golongan orang2 yang sadar sampah di negara kita memang masih terbilang minim banget, dan semoga banyak gerakan sosial yang akhirnya bisa menyadarkan orang lain di sekitar kita.
    Apalagi ini sampah makanan ya, sebenernya di tempat2 makan cepat saji udah nyediain ya tempat buang sampah bekas kita ya, tapi ya itu tadi kesadaran orang2nya yang masih minim banget, karena mungkin beberapa orang prinsipnya, "Kan gw udah bayar, ya gw mesti dilayanin", gitu kalik ya. Jadi untuk self service ini masih langka sekali...

    Kuylah kita semua semangat buat memperbaiki diri kita, dari diri sendiri semoga bisa nular ke lingkungan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Kak Yas! iyaa hehehe, kesadaran diri dan keinginan mau berubah tuh emang jadi inti dari semuanya hahaha.

      Delete
  3. Aku setuju mba. Membandingkan yg sulit di bandingkan. Tp hati memang ada kecenderungan melihat rumput tetangga lebih subur ya.. Seru bgt deh bs 10 hari disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul memang kita cenderung melihat rumput tetangga lebih bagus hehhe.

      Delete
  4. gw kira karena banyak makan mie makanya langsing2 hahaha.. eniwei Kimchi merupakan makanan tersehat di dunia loh. Kalau terenak rendang ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkw, sebenernya makan kimchi juga jadi alasan kenapa mereka kurus sih wkwkw.

      Delete
  5. Indonesia bisa mengambil sisi baik yang ada di Korea tapi sepertinya susah karena mental orang kita masih jalan si tempat.. memang tidak semua buruk tapi kalau ada yg mau mengajak maju selalu dibuat mati kutu hehee..

    Oh ya dulu di jogja saya kerja di restoran korea dengan sistem makan ambil sendiri dan sehabis makan sampah dan piring dibuang sendiri. Dan hasil gak sampai setahun tutup restorannya karena dari survey pada males self service.. katanya udah bayar kok malah gak di service hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya ada juga yang kena charge service, tapi yang self service biasanya yang fast food kok :")

      Delete
  6. Sorry to say, Mifta...
    Kebiasaan terbentuk karena lingkungan.

    Dulu....kaka aku yang lama tinggal di luar negeri, pas balik ke Indonesia juga kaya kamu gitu...Semua serba rapih dan menerapkan adab kehidupan di luar negeri dengan sebaik-baiknya.
    Namun lagi-lagi karena lingkungan kita di Indonesia yang berantakan dan hobi berebut ((kaya lampu merah aja...mereka kan justru rebutan melanggar daripada tertib kaya di kartun Tayo)) dan lain sebagainya....

    We`ll see...
    Kamu bisa jadi start up buat lingkunganmu kah?
    Atau kamu akan balik menjadi orang Indonesia lagi?

    ((aku juga banyak belajar dari tulisanmu...karena beberapa lingkungan di Bandung sudah menerapkan self-service))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, sampe sekarang aku masih melakukan apa yang aku lakukan. Hahahaha, dan menurut aku lingkungan terbentuk karena orang-orangnya ada yang mau berubah atau gimana hahaha.

      Delete
  7. Budaya dan kedisiplinan di luar negeri memang patut kita acungin jempol. Dan seharusnya warga negara kita juga seperti itu. Hanya masalahnya belum semua bisa melakukannya. Jadi yang sudah mau disiplin bisa terpengaruh dengan yang lain.
    Mudah-mudahan negeri ini bisa seperti yang ada di luar ya...

    ReplyDelete
  8. Hmmm kadang aku juga membandingkan gitu, tapi selalu tanda tanya banru yang keluar. Bakal ada sejuta permasalahan yang gak bisa dirubah dalam seketika. Perubahan pun gak bisa 1 orang aja tapi global. Tapi inilah Indonesia tapi tetep cinta

    ReplyDelete
  9. emang kalau mau merubah lingkungan itu harus dimulai dari diri sendiri. Nah kitanya pun harus istiqomah, dan tahan bully hehehe... aku masih sering jalan kaki kemana-mana, eh diketawain dan dikasihani...

    ReplyDelete
  10. bagus biasanya jalan-jalan ke korea itu yang diceritakan soal wisatanya, ini ngambil pelajaran penting dari sebuah perjalanan, jarang nemu artikel travel blog kayak gini

    ReplyDelete
  11. Banyak hal emang yang bisa kita ambil dan terapkan dari negeri luar, itu juga bisa kita mulai dari diri kita sendiri lalu ajak keluarga dan lingkungan sekitar. Semoga kamu bisa menginspirasi juga ya untuk keluarga dan lingkungan sekitar

    ReplyDelete
  12. waw, keren kak, bisa ke korea... hmmm iri deh

    beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca sebuah artikel dari siapaaaa gitu, lupa orangnya.
    dia bercerita kalau banyak mahasiswa indonesia yang kuliah di luar negeri itu, biasanya akan kagum dan takjub banget sama apa2 yang ada di luar negeri, lalu membandingkannya dengan indonesia yang ah sudahlah. tapi nyebelinnya, ketika mereka di indonesia, mereka tuh malah cuma sekedar nyinyir, nggak berbuat apa-apa, minimal berbuat atau ngasih tindakan atau contoh yang sepele lah. misalnya ya itu tadi, membereskan makanan sendiri ketika makan di tempat makan. perlu banget sih, banyak orang untuk mempengaruhi hal-hal baik kepada masyarakat. kalo yang berbuat cuma diri sendiri sih nggak bisa.
    selama ini, alhamdulillah Inshaa Allah saya selalu membereskan makanan-makanan di meja saya. umumnya teman-teman peka untuk membantu saya. tapi masih ada juga lah yaaa bebeerapa yang nyinyirin atau bilang, "nggak usah mbak, biarin". Lah? Kan sedih banget akuuu

    ReplyDelete
  13. Widiih Miftah maennya jauh aja nih... ketemu Jerry Yan ga? coba nanti kalau papasan, tolong bilang ada emak2 lugu yang ngefans banget dan pengen chating di WA gitu ya.. plisss *wkwkwkw

    ReplyDelete
  14. Mari lah tularin ke org sekitar dulu, mau bersih, rajin atau males seringnya bawaan lingkungan sekitar. Maka mari menularkan hal positif apa pun itu

    ReplyDelete
  15. Oke aku belum pernah ke luar negeri, hayah...ke luar kota aja jarang jarang :p


    Tapi urusan sampah, jalan kaki, membereskan meja setelah makan di resto fast food sudah aku lakukan sejak dulu. Walaupun hingga kini tatapan aneh orang masih ada aja ngelihat kelakuanku di resto fast food. Jadi menurutku, bagaimana lingkungan mempengaruhi kita, lalu kebiasaan dan contoh dari orangtua sedikit banyak mempengaruhi prilaku kita.


    Semangat ya Miftah, kamu pasti bisa

    ReplyDelete
  16. wah makanannya mahal mahal ya sangat disayangkan banget ya.Akan tetapi, pemandangan disana pasti bagus bagus banget ya mba

    ReplyDelete
  17. Iyess. .ke luar negeri setidaknya bisa belajar untuk diri sendiri...bukan sekedar kesenangan bisa jalan ke negeri orang
    Inspiratif banget mba...apalagi soal jalan kaki..sy ke warung di blok sebelah aja naik motor...malas banget ya
    Harus diubah ni
    Soal membersihkan meja usai makan kadang ga mendukung tempat makannya.ga ada tong sampah .
    Biasanya saya cuma sisihkan sisa makanan seperti tulang ikan, lalu tumpuk piring jd satu dan lap meja dgn tisu klu ada air yg tumpah

    ReplyDelete
  18. mit.. aku jd tertarik nyoba jalan kaki 20ribu langkah xixixi wuiiih ternyata itu rahasia mereka tetep langsing walau makan daging every day ya..

    mauuuu ah niru

    ReplyDelete
  19. Emip, aku bangga padamu! Yash, kebanyakan orang hanya koar-koar tanpa melakukan tindakan nyata untuk Indonesia. Menuntut pemerintah saja tapi tetap saja serampangan. Lanjutkan, Mip! Semangat terus buat memancarkan aura positif kayak gini ke orang-orang terdekat. Semoga pada ketularan dan semakin melebar sehingga perlahan mengubah Indonesia. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. Korea penen banget ke sana Mif, next ke sana coba jadi guide aku deh kwkwkw. Iya di sana yang bikin sirik adalah cinta warganya sama negaranya, beda sama di sini

    ReplyDelete
  21. Nah, emang itu manfaat pergi ke luar negeri. Bukan cuma cuci mata dan jalan-jalan, tapi kita juga dibikin melek sama keadaan negara kita sendiri. Kita jadi nggak jorok sama negara dan kota kita sendiri. Andai kalau bisa, Kalau bisa ya (kalau bisanya digaris bawahin gitu mif wkwkw), Harusnya semua orang Indonesia dikirim ke luar negeri untuk beberapa hari dan dipulangin balik ke Indonesia, hmm apa jadinya ya negara kita?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts