Magang dan Hal-Hal Lainnya.

credit : Pixelbay


Liburan kampus itu semacam ajang bagi anak-anak kampus gue untuk 'pamer' magang di mana dan liburan ke mana. Hal itu udah semacam rahasia umum. Tidak heran saat tiga bulan sebelum masa magang dan liburan datang, anak-anak kampus gue berlomba-lomba nyari tempat magang maupun merencanakan liburannya. Termasuk gue. Gue yang pada tahun pertama gagal diterima di tempat magang yang gue inginkan, gak mau lah tahun ini menjadi tahun gabut gue lagi. Hal ini menjadi semacam pacutan bagi gue untuk mencari tempat magang. Dan kali ini gue gak muluk-muluk kayak tahun lalu. Gue mencari tempat magang di Jakarta aja. 

Surprisingly, gue keterima magang di salah satu instansi kepemerintahan yang mengurusi tentang regulasi dan pendaftaran makanan. Gue seneng banget lah, gila. It's kinda menjadi hal yang membanggakan bagi gue. Anak semester 4 diterima magang di sana dengan pelamar yang banyak. Pokoknya gue bahagia bangetlah. 

Well, reality is indeed give you a lemon. Gue kira gue akan menjadi bagian dari labnya. Tapi ternyata enggak. Kecewa sih. Pasalnya gue udah nge-set ekspektasi tinggi banget. Pernah gue berpikir untuk tidak mengambil magang ini. Tapi gue mikir lagi, nanti takutnya adik junior gue di kampus malah bermasalah karena gue tolak. Brand kampus jadi jelek. Yaudah, lagian ngitung-ngitung menghabiskan waktu sebelum liburan ehe.

Bagi gue, dunia magang merupakan dunia yang baru bagi gue. Melihat bagaimana kehidupan perkantoran sebenarnya dan memahami how social relationship works. Jujur, I'm sucks at that. Selama beberapa minggu gue literally gak punya teman ngobrol. Hanya supervisor dan co-supervisor aja. Ada sih satu orang lagi yang duduk di sebelah gue, itu pun gak bisa dikategorikan menjadi 'teman ngobrol'. 

Dengan kepribadian gue yang ekstrovert gini, gue merasa tertekan. Beberapa kali gue merasa ingin meninggalkan dunia magang ini. Tapi akhirnya gue mencoba untuk berubah. Pelan-pelan. Walaupun tetap awkward sih. Gue juga banyak berintrospeksi diri. Gue kayak gini karena gue menutup diri dan merasa sangat 'berbeda' dari mereka. Gue merasa mereka terlalu susah digapai. Gue terlalu malu dan melewatkan banyak good first impression. Pokoknya ternyata gue yang messed up banget. 

Pelan-pelan tapi pasti gue mencoba untuk making connection dan sksd walaupun takut dikatain sksd. Well setelah dipindahkan dibagian lain, gue menjadi semakin santai. Semakin mengenal sama mereka, my sunbae-nim. Lalu merasa dihargai karena hal-hal sekecil ditanya makan siang dan ditawarin makan. 

Lama kelamaan gue jadi menanti untuk magang dan menyelesaikannya dengan impression yang baik. Ya gaada yang tau kalo gue bakalan kerja di sini di masa depan, kan? Even now, they are counting on me to do things that they do. Terimakasih kepada kecepatan gue dalam mengerjakan tugas. 

I know it's hard, but when the time is comes the lemon will be lemonade for you.

Keep fighting and be nice to everyone!

Cheers. 



Comments

  1. Magang jadi tempat bagus buat menimba ilmu, gue sempet nyesel pas magang enggak bawa ilmu yang banyak. Padahal maggang itu kita bisa dapet ilmu banyak tanpa harus mendapatkan tanggung jawab yang besar, apalagi tempat magang yang bonafit. Hasilnya nanti bisa dipetik saat mencari kerja, magang bisa jadi poin plus, apalagi kita sampai menguasai jobdesk dan seluk beluk bisnis tempat kita magang itu, interviewer bakalan ngerasa kita orang yang tepat untuk hiring kita, kuncinya apa?

    Ya magang itu sendiri. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts