Review Book : Girls in The Dark

Perempuan dan Perjamuan Makan Malam


Ketua klub sastra mati!
Shiraishi Itsumi mati dengan setangkai bunga lily di pelukkannya. Semua orang bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan ketua klub sastra yang sangat dihormati dan terpandang itu. Benarkan dia dibunuh atau bunuh diri? Tidak ada yang tahu kecuali Itsumi sendiri. Namun, satu dari keenam gadis anggota klub sastra ditenggarai sebagai pembunuh sang ketua.

Selang satu minggu setelah kematian mengenaskan itu, klub sastra mengadakan pertemuan bulanan. Pertemuan yang sudah menjadi tradisi itu dilakukan seperti biasanya. Hal yang berbeda adalah tidak adanya sang ketua yang memimpin pertemuan dan tujuan pertemuan kali ini untuk mengenang mantan ketua dengan sebuah karya cerita pendek. Dari cerita-cerita itulah para anggota menganalisis tentang siapa pembunuh sang ketua yang sebenarnya.

Kartu Tanda Buku
Judul : Girls in The Dark a.k.a Ankaku Joshi | Penulis : Akiyoshi Rikako | Penerjemah : Andry Setiawan |Bahasa : Indonesia | Penerbit : Haru | Tebal : 289 halaman |Genre : Mistery, Thriller

Review
Have you ever wish to kill someone?

Setiap manusia pasti pernah setidaknya memikirkan satu kali untuk membunuh seseorang. Itulah yang coba diangkat oleh buku Girls in The Dark karya Akiyoshi Rikako-san ini. Namun yang menarik adalah Akiyoshi-san mencoba untuk menuliskannya dari sisi pandang yang menarik, yaitu siswi SMA dari sekolah katolik khusus perempuan. Kenapa gue bisa bilang ini menarik karena dimasa-masa tersebut semuanya gaada yang stabil. Hormon, emosi, pikiran, dan lain-lain tidak ada yang stabil. Makanya gak heran banyak drama saat SMA. Hal itulah yang membuat masa-masa SMA jadi golden age sebelum masuk ke tahap maturity. Masa-masa untuk belajar, mencoba, menemukan jati diri dan tentunya egois.

Buku ini dimulai dari perkenalan klub sastra, tradisi perjamuan makan malam ala klub sastra yaitu Yami-Nabe, dan perkenalan tokoh demi tokoh. Kemudian dilanjutkan dengan 6 cerita pendek dari setiap anggota. Pada awalnya gue bisa bilang kalo gue agak lost dibagian pertama. Terlalu banyak yang harus gue cerna dan pahami secara cepat tanpa adanya penjelasan. Hal ini juga gue pikir karena penyajian tulisan yang unik yaitu kayak narator dan komentator laga olahraga yang lagi menjelaskan pertandingan. Jujur, gue gak pernah kepikiran untuk menulis dengan sudut pandang yang disajikan Akiyoshi-san.

Namun ketika gue mulai membaca cerita kedua-ketiga dan selanjutnya, gue mulai mengerti dan memahami jalur ceritanya. Semakin membaca, semakin pula gue tersedot kedalam cerita ini. Tokoh-tokoh yang ada di buku ini bukan cuma satu tapi tujuh yaitu Shiraishi Itsumi, Sumikawa Sayuri, Nitani Mirei, Kominami Akane, Diana Detcheva, Koga Sanoko, dan Takaoka Shiyo. Mereka semua mempunyai porsi masing-masing yang pas dalam mewarnai buku ini menjadi hitam. Dari setiap tulisan, gue bisa langsung ngeliat gimana karakter dari tokoh tersebut.

Contohnya seperti Koga Sanoko, seorang murid straight A yang punya keinginan menjadi dokter. Lantas tulisannya menjadi sistematis dan sangat anak IPA lah. Sedangkan untuk tulisannya Diana Detcheva, gue bisa menangkap bahwa dia penggemar jepang dan Itsumi. Intinya setiap tulisan punya ciri khasnya masing-masing yang menjelaskan latar belakang dan kepribadian tokoh. Itulah yang sangat gue suka dari buku ini.

Buku ini juga menggambarkan bahwa istilah jangan pernah remehkan kekuatan perempuan itu benar adanya. Ketika sudah niat dan ada chance untuk melakukan apa yang diniatkan, maka gaada excuses lagi. Semuanya bisa terjadi. Selain itu, di buku ini juga digambarkan bagaimana kehidupan society anak SMA di Jepang yang beberapa halnya sangat relatable sekali dengan kehidupan society sekarang ini. Seperti menjadi pemeran utama. Ya, gak bisa dibohongi lagi bahwa menjadi pemeran utama adalah keinginan semua orang. Siapa sih yang mau jadi pemeran pembantu? Enggak ada, bahkan cinderella aja berontak demi mendapatkan peran pertamanya.

Untuk alur, Girls in The Dark ini termasuk buku yang membuat pembaca untuk jadi labil. Jalan cerita yang unik dan tentunya punya elemen surprise disetiap cerita. Ada satu hal yang bikin gue amaze banget, yaitu di cerita Diana Detcheva. Gue kira ya, ini si Akiyoshi-san pengen nulis issue homoseksualitas tapi ternyata itu semua membuat gue kaget di akhirnya. What a plot twist sih. Jujur, gue masih bisa nebak sebenernya siapa yang membunuh si Itsumi. Tapi untuk bagaimana membunuhnya gue gak bisa menebak sama sekali. What a smart move! Selain si pembunuh, gue sangat menaruh curiga pada Takaoka shiyo dan Nitani Mirei, Tapi ya kenyataannya begitu.

Kalo kita ngomongin buku ini berat atau enggak, gue bisa bilang kalo sebenarnya buku ini bukan buku berat yang memerlukan konsentrasi 100%. Tapi buku ini tuh tipikal buku yang bisa gue baca saat di sela-sela istirahat kampus, sebelum tidur, dan di angkot. Ringan tapi bikin deg-degkan. Ya secara buku ini termasuk thriller-kan ya, gak heran. Gue sendiri sebelumnya jarang baca buku yang kayak gini, lebih ke novel romance, drama, atau fantasi sekalian. Tapi setelah baca buku ini gue jadi ketagihan baca buku Akiyoshi-san. Since gue juga membaca beberapa J-lit, jadi ya buku ini must to read banget buat gue.

Di buku ini ada beberapa hal yang mengganggu gue, pertama kelabilan sang penerjemah untuk memakai kata penunjuk aku atau saya di dalam tulisan. Ini mengganggu banget woy. Kedua dan terakhir adalah beberapa kata ada yang typo tapi sebagai ketua typo sedunia, gue masih bisa memaafkannya. Cuma ya tolong itu yang pertama tolong diperhatikan kembali ehe. Kalo dari penerjemahannya, gue mengapresiasi penerjemahnya untuk menerjemahkan buku ini dengan sangat baik dan tidak menghilangkan unsur tegang dalam buku ini. What a great job! Maju terus ya! Ehe keep a good work!

Can’t wait to read another book!

                                               
Kalau aku bisa membunuh orang ini, mati pun tidak mengapa. Rasa benciku sampai seperti itu.” -  hal 54

Comments

  1. Mifta di awal ada typo. 'Sebauh'

    Ini sepertinya seru mip! Aku suka jenis2 buku thriller seperti ini. ih penasaran! Mip boleh pinjem gaaaaak?? Huhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga pernah baca novel thriller, takut wkwk. paling jauh misteri (tanpa thriller). Menurutmu ratingnya berapa dari berapa mif?

      Delete
    2. Menurut aku sih ratingnya 4/5 lah fin. :") bagus kok. ringan.

      Delete
  2. Harusnya bakal ada terbitan revisi setelah dapet masukan dari pembaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oala aku belum pernah tau ada terbitan revisi sih :")

      Delete
  3. suka ni gw genre school apalagi jepang. tapi ni ceritanya serem yak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak serem kok, malah bikin penasaran kok.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts